Cerita Rakyat Fabel : Kancil dan buaya

Cerita Rakyat Fabel : Kancil dan buaya

Cerita Rakyat Fabel : Kancil dan buaya

Cerita Rakyat Fabel : Kancil dan buaya

Kancil, adalah hewan kecil namun pintar, punya banyak musuh, namun juga punya banyak rekan di hutan. Untungnya, dia cerdas, agar setiap kali hidupnya terancam, dia sukses melarikan diri.
Pasang Bola
Salah satu musuh terbesarnya adalah buaya, yang tinggal di sungai yang berbatasan dengan hutan. Berkali-kali Buaya coba menangkap si Kancil. Buaya besar, namun dia tidak sangat pintar. Kancil mampu menipu dia setiap saat.

Suatu hari sangat panas. Tidak ada angin serupa sekali untuk menyegarkan kembali tanaman dan pepohonan di hutan yang haus. Hal itu berjalan tengah musim kemarau.

Selama berminggu-minggu tidak ada hujan yang turun agar sungai-sungai kecil tempat minum hewan kecil jadi kering. Kancil tengah berjalan sendirian di hutan; dia sangat haus.

Dia udah berjalan jauh; melacak sungai di mana dia mampu memuaskan dahaga, namun dia hanya mendapatkan lumpur kering di sungai yang dulu mengalir air jernih.

Hal ini sebabkan hutan terlihat sunyi. Semua binatang terlihat tertidur untuk menghemat energi. Bahkan burung-burung tidak bernyanyi di pohon. Kancil selanjutnya mengambil keputusan untuk pergi ke sungai yang berbatasan dengan hutan.

Biasanya dia menjauhi pergi ke sana dikarenakan dia mengerti bahwa Buaya senantiasa waspada untuknya, menunggu kesempatan untuk menangkapnya.

Ketika dia tiba di sungai. Kancil menyaksikan sekelilingnya dengan hati-hati. Tidak ada buaya yang terlihat. Air sungai yang jernih mencerminkan cahaya matahari. Selangkah demi selangkah Kancil mendekati air.

Mata tajamnya menyaksikan ke kanan dan ke kiri; telinganya yang runcing tegang untuk menangkap suara sekecil apa pun. Tapi sepertinya tidak ada bahaya yang mengancamnya kali ini.

Lega, dia menundukkan kepalanya untuk menikmati air dingin. Tiba-tiba, pandangannya jatuh pada benda yang mengambang tidak jauh berasal dari tempat dia berdiri. Itu adalah benda yang kehitaman. Itu terlihat seperti cabang pohon yang tumbang ………. Atau, seperti bagian belakang buaya!

Kancil melompat mundur, terkejut dan berpikir. Tapi dia juga sangat haus. Bagaimana dia mampu mengerti apakah benda yang ada di sungai itu sangat kayu bulat atau buaya?

Kemudian dia tersenyum sedikit ketika dia mendapat ide.

Dengan suara yang mengerti dia berteriak, “Hei! Di sana, Anda yang berada di sungai. Jika Anda buaya, jangan jawab saya, namun jika Anda hanya panjang kayu, beri mengerti saya nama Anda! “

Ternyata yang mengambang itu sangat buaya, yang tengah menunggu Kancil yang lengah.

Tanpa berpikir lebih jauh, Buaya menjawab Kancil dengan suaranya yang kasar, “Jangan takut, saya hanya kayu yang tidak berbahaya!”

Segera, Kancil melarikan diri secepat yang mampu dilakukan oleh kakinya, sambil berteriak di atas bahunya, “O, Buaya bodoh, pernahkah Kamu mendengar sebatang kayu berbicara?”

Namun, dua minggu kemudian, Kancil membiarkan perihal ini. Musim kemarau belum berakhir dan tampaknya lebih panas berasal dari sebelumnya. Kancil teringat akan air sungai yang sejuk dan segar. Betapa indahnya mandi di dalamnya! Dia mengambil keputusan untuk coba peruntungannya sekali lagi.

Kali ini tidak ada yang meragukan untuk dilihat, jadi Kancil pergi ke air dan minum sepuasnya.

Tanpa pikir panjang, Kancil turun ke sungai dan terasa memercikan air ke tubuhnya sendiri dengan memanfaatkan ranting yang ada dipinggir sungai. Dalam kegembiraannya dia membiarkan semua berkenaan bahaya.

Dia sebabkan banyak suara agar dia terbangun ….. siapa kembali jika bukan buaya tua yang tengah tidur di lebih kurang itu.

“Wah, ini sepertinya hari keberuntunganku,” pikir Buaya. Dalam sekejap ia meluncur terlihat berasal dari tempat persembunyiannya.

Dan tiba-tiba, Kancil merasakan gigi tajam menggigit salah satu kakinya. Itu sangat menyakitinya, namun biarpun dia kaget dan ketakutan, Kancil tidak kehilangan akal sehatnya. Tanpa ragu-ragu dia mencelupkan ranting kering ke dalam air dan dengan suara mengejek dia berkata,

“Buaya tua yang bodoh, apakah Kamu sangat berpikir udah menggigit saya? Yang anda gigit itu ranting, bukan kaki saya. Ini kakiku, tangkaplah jika bisa! “

Kancil menggerakan ranting dengan cepat di depan mata Buaya. Buaya tidak mampu menyaksikan dengan baik di dalam air dan yang terpenting, dia sangat bodoh!

Dia percaya ucapan si kancil lantas membiarkan kaki Kancil dan mengatupkan rahangnya pada ranting. Tentu saja, kancil tidak menunggu sedetik pun untuk melompat terlihat berasal dari air dan berlari menuju hutan. Meskipun kakinya sangat sakit, dia tertawa terbahak-bahak. Sekali kembali dia menipu buaya.

Cerita Rakyat